Kalbu Kelabu
Sembirat rindu
di wajahnya terukir jelas. Ribuan kubik air mata yang telah meruah sekalipun
tidak bisa mengubah kenyataan bahwa dia harus hidup tanpa Ayahnya. Menjalani
garis takdir-Nya yang pilu hanya bersama Ibu dan Adikknya. Kabut hitam
menggantung dalam sekeping hati yang telah rapuh telah dia coba singkirkan.
Tapi hasilnya tetap nihil, rindunya tidak habis-habis meski sang waktu sudah
beranjak kian jauh.
Sang
matahari menyerbu dengan terik sinarnya dari petala langit. Berjejer gugusan awan putih dengan berbagai bentuk dalam bentangan langit biru. Julia masih
mengamati dengan baik bagaimana indahnya ciptaan Allah SWT ini. Hatinya merasakan
damai sekaligus cemas yang sangat parah. Pikirannya terhisap dalam ketakutan-ketakutan
yang tak bersebab. Julia mencoba mengusap-usap tangannya lalu menempelkannya ke
dada. Tapi semua terasa gagal, rasa takut itu masih menggelayuti benaknya.
Sekonyong-konyong.
“Kenapa
disini Jul? Gak biasanya duduk-duduk sendirian gak jelas begini.” Suara itu
mengalirkan kedamaian. Sebaris senyum melengkung diantara pipi mengembang
Zahra.
“Gak
jelas? Masa sih? Sok tahu banget-” Bantah Julia, pandangannya terjatuh menahan
malu karena kepergok sedang melamun oleh Zahra.
“Jangan
bohong. Ada apa sih?” Pangkas gadis itu penasaran.
Julia
menundukkan kepalanya. Dia memang tidak pernah bisa lolos dari Zahra, dia
selalu tahu saat hatinya sedang berbuncah, terombang-ambing dalam
ketidakjelasan. “Aku takut Ra.” Kata Julia dengan bibir bergetar dan suaranya
terdengar parau.
Kening
gadis itu mengerut. Dia mendengarkan dengan sangat serius setiap kata-kata yang
keluar dari mulut Julia. “Takut kenapa Jul? Ayo cerita.” Katanya lagi, dia merapatkan
tubuhnya, tangannya menggenggam kuat tangan Julia.
“Aku
takut cerpen itu nggak lolos seleksi.” Ungkap Julia kemudian seraya memandang
kosong rumput liar yang dimain-mainkannya semenjak tadi.
“Takut?
Karena apa? Setiap orang sukses itu pasti pernah gagal Jul. Setiap penulis
terkenal tidak selalu berjalan mulus pada awalnya, kadang-kadang ada kerikil
tajam atau bongkahan batu besar yang menghalangi perjalanan mereka. Ditolak
untuk seorang penulis itu biasa Jul, bukan cuma kamu aja yang ngerasain
sakitnya ditolak itu gimana. Untuk menggapai setiap mimpi pasti ada rintangan
tersendiri, apalagi kamu Jul ini baru cerpen pertama. Kalau kamu udah jatuh cuma
gara-gara ini gimana kamu mau genggam mimpi kamu?” Jelas Zahra retoris.
Segaris
senyum tampak dari wajah Julia, meskipun begitu dia sama sekali tidak bisa
menyembunyikan kecemasannya dari Zahra. “Aku hanya ingin membahagiakan Ibuku.
Aku ingin memberikannya sesuatu yang tidak semua anak bisa berikan untuk orang
tuanya. Tapi kalau cerpen ini-“
“Berhenti
Jul. aku yakin hasilnya gak akan separah yang kamu bayangin kok. Kenapa sih
kamu harus takut. Ini adalah hal yang tidak biasa aku lihat dari sosokmu yang
biasanya penuh dengan kepercayaan diri.” Kata Zahra persisten.
Julia
melemparkan pandangannya ke wajah Zahra. Julia tersenyum getir setelah kalimat
terakhirnya. “Aku tidak peduli berapa besar honornya Ra, aku cuma pengen liatin
ke Ibu aku, kalau anaknya dibesarkan tanpa sia-sia.” Tegas Julia.
“Aku
mengerti maksudmu. Aku faham semuanya Jul. Aku juga sama kaya kamu. Aku sekolah
disini juga buat Ibu aku. Disaat dia sudah putus asa untuk membiayai aku karena
keterbatasannya. Aku lahir dalam keluarga yang sangat sederhana. Asal kamu tahu
Jul, aku berusaha keras untuk sekolah disini. Aku berjuang meyakinkan ibuku
bahwa akan ada jalan untuk yang mau berusaha. Tapi aku masih gamang bagaimana
aku harus melanjutkan mimpi-mimpiku ke depannya. Apa Ibuku sanggup membiayaiku?”
“Sekarang
dimana Zahra yang sering kulihat dengan penuh optimisme-nya? Ayolah Ra, ini
bukan alasan buat kamu berhenti bermimpi. Jangan robek mimpi-mimpi kamu cuma
gara-gara uang. Ini bukan masalah kamu bisa atau nggak. Tapi ini tergantung
kamu mau apa enggak.”
“Ini
tidak semudah yang kamu bayangin Jul. Hidup kamu udah dijamin lengkap. Ada
ayah, ibu, adik dan kakakmu. Sedangkan aku? Aku hanya hidup dengan ibu dan
adikku. Tanpa seorang Ayah. Tanpa kasih sayangnya. Satu yang pasti aku tahu, fakta
bahwa ibuku rela mandi keringat untukku dan adikku. Dia berbesar hati untuk
menerima kenyataannya yang gelap. Dia tidak keberatan untuk merangkap dua tugas
sekaligus. Sebagai ibu dan ayah untuk aku dan adikku.” Ujar Zahra dengan
menekan nada bicaranya.
“Memangnya
dimana ayahmu? Apa dia sudah?” Tanya Julia ragu.
“Semua
masa lalu itu seperti hilang tertelan waktu. Ingatanku tentangnya sudah tandas.
Aku tidak ingat bagaimana wajahnya, bagaimana kasih sayangnya. Semua tentangnya
telah melapuk dari selubung memoriku. Terakhir kali aku melihatnya saat umurku
tiga tahun. Waktu itu, kakiku kena knalpot sepeda motor saat berboncengan
dengannya. Hanya itu kenanganku bersamanya yang masih kuingat, setelah itu aku
tidak pernah lagi mengingat tentangnya. Dia lenyap tidak berbekas dari
kehidupan kami. Aku tidak pernah tahu apakah dia masih hidup atau sebaliknya.”
Terang Zahra dengan lemah. Dia menata dirinya menjadi setegar mungkin.
“Apa
ibumu juga tidak pernah bercerita tentangnya?”
“Ya,
ibuku tidak pernah ingin menceritakan sepatah katapun tentang ayahku. Mungkin
itu menggoreskan luka mendalam untuknya, aku juga tidak pernah berani untuk
bertanya padanya. Hanya bisikan-bisikan tetangga yang menjadi ladang
informasiku tentang ayahku. Itupun aku masih meragukannya.”
“kamu
tahu apa yang masih bisa aku lakukan untuknya?” Sambung Zahra setelah membatu
beberapa jenak.
Julia
hanya mematung. Julia mengerti bahwa gadis ini tidak memerlukan jawaban darinya.
Dia hanya perlu mengeluarkan isi pikirannya.
Setelah
beberapa detik berlalu, Zahra melanjutkan ucapannya yang terpotong. “Aku masih
menunggunya.” Katanya Zahra dengan suara bergetar.
Hati
Julia terkoyak hebat. Pedih rasanya. Air matanya yang tertahan sejak awal
meluncur tidak terkendali. Begitupun dengan Zahra, meski awalnya terlihat tegar
namun dia akhirnya jatuh juga. Julia menatap manik mata Zahra sekali lagi,
dalam lautan mata Zahra dia menemukan bergumpal-gumpal rindu untuk pria yang
teramat dikasihinya. Dari wajahnya yang teduh melukiskan pahitnya kenyataan
tanpa Ayahnya. Matanya menyibak tabir kepedihan hidupnya. Dia masih terlalu
kecil untuk kehilangan sosok ayah. Ditambah lagi melayari kehidupan dengan
segala macam sisinya. Gadis itu tumbuh ditangan wanita yang tidak salah, wanita
yang mengajarkannya ilmu agama dan kehidupan akhirat, membuatnya menjadi gadis
yang tidak mudah menyerah walau dalam hantaman badai panjang sekalipun..
“Aku
merindukan ayahku.” Katanya lagi dengan nada bicara yang lebih lemah. Butiran
hangat jatuh dari bingkai matanya yang terpejam. Segera, Julia meraih tubuhnya.
Julia berikan kehangatan pelukan seorang sahabat kepada sahabatnya.
Komentar
Posting Komentar