Langsung ke konten utama

Cerita Pendek Remaja, Cerita Remaja Islami

Kalbu Kelabu

Sembirat rindu di wajahnya terukir jelas. Ribuan kubik air mata yang telah meruah sekalipun tidak bisa mengubah kenyataan bahwa dia harus hidup tanpa Ayahnya. Menjalani garis takdir-Nya yang pilu hanya bersama Ibu dan Adikknya. Kabut hitam menggantung dalam sekeping hati yang telah rapuh telah dia coba singkirkan. Tapi hasilnya tetap nihil, rindunya tidak habis-habis meski sang waktu sudah beranjak kian jauh.
Sang matahari menyerbu dengan terik sinarnya dari petala langit. Berjejer gugusan awan putih dengan berbagai bentuk dalam bentangan langit biru. Julia masih mengamati dengan baik bagaimana indahnya ciptaan Allah SWT ini. Hatinya merasakan damai sekaligus cemas yang sangat parah. Pikirannya terhisap dalam ketakutan-ketakutan yang tak bersebab. Julia mencoba mengusap-usap tangannya lalu menempelkannya ke dada. Tapi semua terasa gagal, rasa takut itu masih menggelayuti benaknya. Sekonyong-konyong.
“Kenapa disini Jul? Gak biasanya duduk-duduk sendirian gak jelas begini.” Suara itu mengalirkan kedamaian. Sebaris senyum melengkung diantara pipi mengembang Zahra.
“Gak jelas? Masa sih? Sok tahu banget-” Bantah Julia, pandangannya terjatuh menahan malu karena kepergok sedang melamun oleh Zahra.
“Jangan bohong. Ada apa sih?” Pangkas gadis itu penasaran.
Julia menundukkan kepalanya. Dia memang tidak pernah bisa lolos dari Zahra, dia selalu tahu saat hatinya sedang berbuncah, terombang-ambing dalam ketidakjelasan. “Aku takut Ra.” Kata Julia dengan bibir bergetar dan suaranya terdengar parau.
Kening gadis itu mengerut. Dia mendengarkan dengan sangat serius setiap kata-kata yang keluar dari mulut Julia. “Takut kenapa Jul? Ayo cerita.” Katanya lagi, dia merapatkan tubuhnya, tangannya menggenggam kuat tangan Julia.
“Aku takut cerpen itu nggak lolos seleksi.” Ungkap Julia kemudian seraya memandang kosong rumput liar yang dimain-mainkannya semenjak tadi.
“Takut? Karena apa? Setiap orang sukses itu pasti pernah gagal Jul. Setiap penulis terkenal tidak selalu berjalan mulus pada awalnya, kadang-kadang ada kerikil tajam atau bongkahan batu besar yang menghalangi perjalanan mereka. Ditolak untuk seorang penulis itu biasa Jul, bukan cuma kamu aja yang ngerasain sakitnya ditolak itu gimana. Untuk menggapai setiap mimpi pasti ada rintangan tersendiri, apalagi kamu Jul ini baru cerpen pertama. Kalau kamu udah jatuh cuma gara-gara ini gimana kamu mau genggam mimpi kamu?” Jelas Zahra retoris.
Segaris senyum tampak dari wajah Julia, meskipun begitu dia sama sekali tidak bisa menyembunyikan kecemasannya dari Zahra. “Aku hanya ingin membahagiakan Ibuku. Aku ingin memberikannya sesuatu yang tidak semua anak bisa berikan untuk orang tuanya. Tapi kalau cerpen ini-“  
“Berhenti Jul. aku yakin hasilnya gak akan separah yang kamu bayangin kok. Kenapa sih kamu harus takut. Ini adalah hal yang tidak biasa aku lihat dari sosokmu yang biasanya penuh dengan kepercayaan diri.” Kata Zahra persisten.
Julia melemparkan pandangannya ke wajah Zahra. Julia tersenyum getir setelah kalimat terakhirnya. “Aku tidak peduli berapa besar honornya Ra, aku cuma pengen liatin ke Ibu aku, kalau anaknya dibesarkan tanpa sia-sia.” Tegas Julia.
“Aku mengerti maksudmu. Aku faham semuanya Jul. Aku juga sama kaya kamu. Aku sekolah disini juga buat Ibu aku. Disaat dia sudah putus asa untuk membiayai aku karena keterbatasannya. Aku lahir dalam keluarga yang sangat sederhana. Asal kamu tahu Jul, aku berusaha keras untuk sekolah disini. Aku berjuang meyakinkan ibuku bahwa akan ada jalan untuk yang mau berusaha. Tapi aku masih gamang bagaimana aku harus melanjutkan mimpi-mimpiku ke depannya. Apa Ibuku sanggup membiayaiku?”
“Sekarang dimana Zahra yang sering kulihat dengan penuh optimisme-nya? Ayolah Ra, ini bukan alasan buat kamu berhenti bermimpi. Jangan robek mimpi-mimpi kamu cuma gara-gara uang. Ini bukan masalah kamu bisa atau nggak. Tapi ini tergantung kamu mau apa enggak.”
“Ini tidak semudah yang kamu bayangin Jul. Hidup kamu udah dijamin lengkap. Ada ayah, ibu, adik dan kakakmu. Sedangkan aku? Aku hanya hidup dengan ibu dan adikku. Tanpa seorang Ayah. Tanpa kasih sayangnya. Satu yang pasti aku tahu, fakta bahwa ibuku rela mandi keringat untukku dan adikku. Dia berbesar hati untuk menerima kenyataannya yang gelap. Dia tidak keberatan untuk merangkap dua tugas sekaligus. Sebagai ibu dan ayah untuk aku dan adikku.” Ujar Zahra dengan menekan nada bicaranya.
“Memangnya dimana ayahmu? Apa dia sudah?” Tanya Julia ragu.
“Semua masa lalu itu seperti hilang tertelan waktu. Ingatanku tentangnya sudah tandas. Aku tidak ingat bagaimana wajahnya, bagaimana kasih sayangnya. Semua tentangnya telah melapuk dari selubung memoriku. Terakhir kali aku melihatnya saat umurku tiga tahun. Waktu itu, kakiku kena knalpot sepeda motor saat berboncengan dengannya. Hanya itu kenanganku bersamanya yang masih kuingat, setelah itu aku tidak pernah lagi mengingat tentangnya. Dia lenyap tidak berbekas dari kehidupan kami. Aku tidak pernah tahu apakah dia masih hidup atau sebaliknya.” Terang Zahra dengan lemah. Dia menata dirinya menjadi setegar mungkin.
“Apa ibumu juga tidak pernah bercerita tentangnya?”
“Ya, ibuku tidak pernah ingin menceritakan sepatah katapun tentang ayahku. Mungkin itu menggoreskan luka mendalam untuknya, aku juga tidak pernah berani untuk bertanya padanya. Hanya bisikan-bisikan tetangga yang menjadi ladang informasiku tentang ayahku. Itupun aku masih meragukannya.”
“kamu tahu apa yang masih bisa aku lakukan untuknya?” Sambung Zahra setelah membatu beberapa jenak.
Julia hanya mematung. Julia mengerti bahwa gadis ini tidak memerlukan jawaban darinya. Dia hanya perlu mengeluarkan isi pikirannya.
Setelah beberapa detik berlalu, Zahra melanjutkan ucapannya yang terpotong. “Aku masih menunggunya.” Katanya Zahra dengan suara bergetar.
Hati Julia terkoyak hebat. Pedih rasanya. Air matanya yang tertahan sejak awal meluncur tidak terkendali. Begitupun dengan Zahra, meski awalnya terlihat tegar namun dia akhirnya jatuh juga. Julia menatap manik mata Zahra sekali lagi, dalam lautan mata Zahra dia menemukan bergumpal-gumpal rindu untuk pria yang teramat dikasihinya. Dari wajahnya yang teduh melukiskan pahitnya kenyataan tanpa Ayahnya. Matanya menyibak tabir kepedihan hidupnya. Dia masih terlalu kecil untuk kehilangan sosok ayah. Ditambah lagi melayari kehidupan dengan segala macam sisinya. Gadis itu tumbuh ditangan wanita yang tidak salah, wanita yang mengajarkannya ilmu agama dan kehidupan akhirat, membuatnya menjadi gadis yang tidak mudah menyerah walau dalam hantaman badai panjang sekalipun..
“Aku merindukan ayahku.” Katanya lagi dengan nada bicara yang lebih lemah. Butiran hangat jatuh dari bingkai matanya yang terpejam. Segera, Julia meraih tubuhnya. Julia berikan kehangatan pelukan seorang sahabat kepada sahabatnya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi Buku

Title                       : Langsung Bisa Menguasai Tenses Author                   : Joanna Adia Publisher               : Agogos Publishing Prints                     : The first, 2011 Thickness of book : vi + 168 pages ISBN                      : 978-602-19011-6-8  English is the international language. Almost all countries from different parts of the world use English as their native language, second language, or third language. Indonesia is one country that uses Engl...