Kalbu Kelabu Sembirat rindu di wajahnya terukir jelas. Ribuan kubik air mata yang telah meruah sekalipun tidak bisa mengubah kenyataan bahwa dia harus hidup tanpa Ayahnya. Menjalani garis takdir-Nya yang pilu hanya bersama Ibu dan Adikknya. Kabut hitam menggantung dalam sekeping hati yang telah rapuh telah dia coba singkirkan. Tapi hasilnya tetap nihil, rindunya tidak habis-habis meski sang waktu sudah beranjak kian jauh. Sang matahari menyerbu dengan terik sinarnya dari petala langit. Berjejer gugusan awan putih dengan berbagai bentuk dalam bentangan langit biru. Julia masih mengamati dengan baik bagaimana indahnya ciptaan Allah SWT ini. Hatinya merasakan damai sekaligus cemas yang sangat parah. Pikirannya terhisap dalam ketakutan-ketakutan yang tak bersebab. Julia mencoba mengusap-usap tangannya lalu menempelkannya ke dada. Tapi semua terasa gagal, rasa takut itu masih menggelayuti benaknya. Sekonyong-konyong. “Kenapa disini Jul? Gak biasanya duduk-duduk sendirian gak jelas be...
Ada banyak cara untuk mengungkapkan cinta. Dan aku, memilih menyampaikannya lewat aksara.